Photobucket

085840316900

Minggu, 22 Februari 2009

Lagu dan musikThe Changcuters potential jadi sumber devisa




Melihat lima anak muda yang tergabung dalam band The Changcuters, saya terbayang sosok idola semua orang ditahun 60-an. Yaitu James Dean, bintang film, jagoan balap mobil yang mirip dengan vokalis The Changcuters, rambut berjambul, alis tebal dan dahinya.

Lalu sisanya empat pemain band diluar vokalis The Cangcuters sangat mirip gaya dan tatanan rambut dari personil band kesayangan dan legendaris ‘the Beatles’ : John Lennon, Paul Mac Cartney, George Harrison dan Ringo Starr..

Beda antara vokalis The Changcuters dengan James Dean sangat tipis, hanya lebih ceking dibanding James Dean yang bertubuh atletis. Tatapan mata, gerak-geriknya dalam video ‘I love you Bibeh’ dengan latar setting di satu bengkel motor, sangatlah persis dengan James Dean (alm). Saat membonceng Carissa Putri diatas motor, ini analoginya saat James Dean membawa Liz Taylor didalam mobil balapnya dalam film Hollywood kalau saya tidak salah berjudul ‘Giant’.

Coba kita simak empat personil lainnya dari The Changcuters. Mereka memainkan gitar melodi maupun bass, memukul drum dan menekan keyboard. Style rambut sangat persis The Beatles, sampai-sampai tatkala band ini menjadi peserta acara TV ‘Deal or no Deal’ Indonesia, Tantowi Yahya sengaja memegang dan merasakan kelembutan rambut model The Beatles mereka. Mungkin Tantowi mengira rambut itu tidak asli, alias hanya rambut palsu atau wig saja…

Dari sudut fashion, saya menilai kelima personil The Changcuters sangat stylish/modist. Lihat dasi mereka yang berpola ‘polka dot’, mengenakan vest didalam jas mereka. Potongan celana pas badan, alias mengikuti bentuk kaki yang mengecil dibagian bawah. Ditunjang lagi dengan pemilihan bahan dan warna untuk kemeja, vest, jas dan celana panjang yang sangat pas. Kelimanya tampak slim dan ’dandy’ sesuai selera ‘high class’ dengan sepatu kulit yang mengkilat rapih. Maka nggak salah kalau mereka sekarang disebut sebagai ‘trend setters’ anak muda.

Sementara personil band lain yang kita kenal, jarang memakai baju sama/kostum. Mereka cenderung berpakaian sendiri-sendiri yang casuals, jacket dan celana jeans. Atau T-shirt/kaos dan celana jeans. Sepatu yang biasa dipakai model sepatu sport atau sneakers. Potongan rambutpun sesuai selera masing-masing agak panjang atau pendek dengan sisiran rambut ala ‘punk’ yang lagi ngetrend..

Jadi dimata saya, band The Changcuters adalah sebuah band yang fenomenal, ‘classy’ dan ‘anak muda banget’ dengan keceriaan, kesegaran dan energi berlebih yang mereka miliki. Rasanya betul-betul mereka ‘tidak ada beban sama sekali’ saat bernyanyi ‘I love you Bibeh’ dan lagu-lagu lainnya.

Mengenai nada lagu ‘I love you Bibeh’ saya sedikit teringat pada lagu barat ’stupid cupid’ Ada satu atau dua bar yang mirip diantara kedua lagu tersebut, dan ini wajar.. Karena setiap orang pada saat berproduksi, pasti akan terinspirasi, terbias atau terpengaruhi oleh pengalaman mental yang bersangkutan.. Maka hal ini wajar-wajar saja..

Saya titip kepada band The Changcuters dan musisi muda Indonesia : tetaplah berkiprah didunia musik Indonesia, gali lebih dalam lagi potensi diri anda masing-masing. Saya percaya bahwa anda dan musisi Indonesia lainnya dengan lagu yang begitu populer dan disenangi masyarakat Indonesia dan dunia, akan dapat menjadi sumber devisa andalan, selain TKI. Yaitu dengan memperluas pemasaran lagu-lagu Indonesia ke manca negara. Kalau perlu, lagu dibuat dalam versi bahasa Inggris, sehingga para fans di lima benua akan menikmati lagu Indonesia dengan pemahaman arti lirik yang lebih dalam, ketimbang dalam bahasa Indonesia yang mereka tidak mengerti.

Satu-satunya penghalang kearah tujuan mulia itu yaitu ‘pembajakan lagu’. Jadi pemerintah diharapkan bersikap tegas terhadap para pembajak lagu tersebut. Seret mereka yang terlibat ke meja hijau dan jatuhkan sanksi sesuai undang-undang yang berlaku. Kalau bukan pemerintah, siapa lagi yang melindungi hak cipta para musisi kita. Musisi Indonesia dengan lagu2nya adalah asset negara yang sangat berharga dan wajib dilindungi. Segeralah berani bertindak tegas, pak SBY dan para pembantunya…


Dr. Sukma Merati

The Changcuters Kasih Saran Film Nasional




Walau hampir tidak pernah menjawab pertanyaan yang diajukan dengan serius, namun ketika ditanyai kebangkitan film nasional, The Changcuters cukup bisa mengeluarkan pendapatnya. Tria, sang vokalis mengaku senang karena begitu banyak pilihan film Indonesia begitu dirinya datang ke bioskop.


Namun saran dan masukan juga diberikan kepada para pembuat film.Ditemui pada realese Selamat Jalan Cinta, Crown Plaza, band yang terbentuk tiga tahun lalu memberi saran kepada para pembuat film tidak usah ragu untuk mengeluarkan dana yang menggunung demi hasil yang memuaskan. Begitu pula dengan keseragaman tema yang mulai menjenuhkan diharap dapat lebih variatif lagi.

The Changcuters Biar Kurus Asal Bertenaga




Seragam ketat yang dikenakan oleh para personel grup Changcuters memang tampak pas dengan tubuh langsing mereka. Kesukaan Tria, Dipa, Erick, Alda, dan Qibil berolahraga, sedikit banyak ikut membuat tubuh mereka tetap jauh dari kegemukan.
Diakui Dipa, ia dan keempat temannya tersebut bahkan selalu mengisi waktu luang dengan berolahraga, ketika mereka berada di hotel untuk pekerjaan. "Biasanya, kalau di hotel ada tempat fitnes, kami selalu ke sana untuk mengisi waktu. Treadmill, sepeda, dan sit up sekitar 30 menit, untuk menyegarkan badan juga," cerita Dipa, Kamis (1/1).

Bagi Dipa dan rekan-rekannya, hal itu lebih menyenangkan dan menguntungkan ketimbang bermalas-malasan di dalam kamar hotel sambil menunggu waktu naik ke atas pentas.
Menurut Tria, ia dan rekan-rekannya doyan berbagai jenis olahraga. "Hampir semua olahraga kami suka. Cuma, gue enggak bisa main bola. Gue lebih ke olahraga atletik," aku Tria. Sebaliknya, keempat rekannya gemar bermain sepakbola.
Untuk mengisi liburan di awal 2009, Changcuters khusus meluangkan waktu untuk berolahraga outbond, yang tidak hanya melemaskan otot-otot yang kencang usai manggung di penghujung tahun, tapi juga memacu adrenalin.
"Ini untuk menunjukkan, walaupun kurus, kami tetap bertenaga. Bukan cuma butuh keberanian, melainkan juga teknik. Olahraga seperti ini bagus untuk melatih konsentrasi," kata Dipa.

"The Cangcuters Out Of The Box", Hanung




Setelah Sukses di masyarakat film TariX Jabrix rencananya akan dibuat sekuel yang kedua. Film yang dibintangi oleh grup musik The Changcuters ini akan kembali diperankan oleh grup musik asal Bandung tersebut. Film yang menceritakan tentang kehidupan anak-anak geng motor ini akan dibuat dengan konsep yang berbeda.

Film yang diproduksi oleh Starvision ini akan digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo. Kepada Seleb Tv peraih piala Citra FFI sebagai sutradara terbaik lewat film Brownies ini mengatakan awal pertama memilih The Changcuters karena grup band yang terkenal dengan lagu Racun Dunia ini memiliki keunikan.Sebelumnya sutradara yang kini dekat dengan pesinetron Zaskia Mecca sempat sangsi dengan mereka tapi setelah melihat video klip album pertamanya sutradara film Ayat-ayat Cinta yakin grup musik ini mampu bermain film.


Rep&Kam: Sapta&Anas | Penulis Arif | Edt: Ardie | Vo:Riana&Derly | Sumber: CIPVideo Streaming (Video on Demand & Live Streaming) by SELEBTV (www.seleb.tv), a product of Sandika Digital Media (SDM)


Lihat Vidoe Streamingnya

UPDATE The Changcuters Main Film Lagi





Setelah sukses membintangi film Tarix Jabrix, kini The Changcuters kembali berakting untuk sekuel film tersebut. Menurut para personilnya, Tarix Jabrix 2 ini digarap untuk mengobati hati para penikmat film tanah air yang belum sempat menyaksikan Tarix Jabrix. Dengan konyol mereka mengatakan adalah sebuah pertaruhan moral bagi orang jika belum menonton akting mereka.

Film garapan Hanung Bramantio ini memang sambungan dari cerita yang sebelumnya. Namun terdapat beberapa perbedaan yang membuat penonton tidak bosan apalagi jenuh ketika menatapkan mata di film ini. Seperti apa yang dikatakan oleh anak-anak Bandung ini.Selain bertambahnya angka 2 pada judul film, ide cerita juga mengalami pengembangan yang pasti membuat film semakin bagus. Usai syukuran filmnya, Tria (vokal), Qibil (backing vocal & gitaris), Alda (gitaris), Dipa (bassis), dan Erick (drummer) tak lupa menuturkan harapan dari film yang dibintanginya.

Rep&Kam: Sapta&Anas | Penulis: Hnn | Edt: Fajar | Vo: Riana&Hendri |Sumber: CIP |Video Streaming (Video on Demand & Live Streaming) by SELEBTV(www.seleb.tv), a product of Sandika Digital Media (SDM)

Jumat, 20 Februari 2009

The Changcuters Jangan Panggil Kami Kurus


 

Melihat postur para personel grup band The Changcuters, tentu semua setuju menyebut lima pria itu sebagai pemilik tubuh kurus. Paha kecil, pinggang kecil, kaki kecil. Semuanya serbakecil. Untuk ukuran tubuh seorang pria, para punggawa The Changcuters yang terdiri atas Tria Changcut (vokal), Qibil Changcut (gitar), Alda Changcut (gitar), Erick Changcut (drum), dan Dipa Changcut (bas) memang bisa dibilang kurus. Apalagi, setiap personel rata-rata memiliki tinggi 170 cm.


Meski begitu, dengan segala fakta yang terpampang, The Changcuters enggan disebut kurus. "Kami langsing," ujar Tria yang ditemui saat The Changcuters mengisi sebuah acara pada Senin (1/12) di Surabaya. Jawaban Tria itu sontak diiyakan oleh anggota lain The Changcuters.

Dengan bentuk tubuh superlangsing, band rock and roll asal Bandung tersebut tidak minder sama sekali. Mereka justru bangga dengan bentuk badan yang irit itu. "Apalagi, cewek-cewek biasanya iri melihat kaki kami yang seksi," imbuhnya.

Menurut Dipa, kelangsingan tubuh yang mereka punya itu tidak disengaja. Sebelum band terbentuk, setiap personel sudah memiliki tubuh langsing. Tidak ada unsur kesengajaan untuk menguruskan atau mengecilkan badan, apalagi mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dipa melanjutkan, bahkan orang tua masing-masing pun normal. "Sudah takdirnya kami bertubuh seperti ini," ucap kelahiran Medan, 7 Mei 1982, tersebut.

Seluruh personel The Changcuters mengakui bahwa kecilnya badan tersebut memang sedikit menyulitkan mereka saat mencari baju. Setidaknya, untuk atasan, mereka harus mencari baju berukuran supersmall (ss). Sedangkan untuk bawahan, celana ukuran cewek paling pas membalut kaki seksi mereka. Di luar ukuran itu, sudah kebesaran. Bahkan, untuk ukuran baju anak-anak pun, tak semuanya langsung pas di badan mereka. "Kami lebih sering mengecilkan baju sendiri," tutur Qibil.

Pernah terpikir menaikkan berat badan? "Nggak lah. Segini sudah pas," tegas Dipa. Malah, kalau bisa, berat badan tersebut terus dijaga, jangan sampai melonjak drastis. "Paling maksimal 60 kg, jangan lebih dari itu," imbuh Erick. Pasalnya, berat badan sangat berhubungan dengan kostum. Bila berat badan tidak terkontrol, mereka harus mencari kostum baru. Itu tentu bukan perkara mudah.

Menurut Irfan, road manager, menjaga berat badan tersebut sudah menjadi kesadaran tiap-tiap personel. Saat sudah merasa kegendutan, secara otomatis mereka mengatur pola makan sendiri. "Ada kala saya mengingatkan mereka untuk olahraga juga," tuturnya.

Iritnya badan ternyata berbanding terbalik dengan nafsu makan. Tubuh boleh kecil. Tapi, soal makan, pria-pria berambut nyentrik itu tergolong lahap. Sehari, minimal mereka makan empat kali. Porsi tersebut bisa bertambah hingga enam kali. Itu belum termasuk ngemil. "Kami ngemil nasi padang," canda Alda


(ign/ayi)batampos

Dipa 'The Changcuters' Sensi Lemak






Untuk urusan menjaga stamina dan kondisi tubuh, Dipa 'The Changcuters' memang paling rajin. Setiap hari, Dipa rutin melakukan treatmil, bersepada dan sit up hanya untuk membakar lemak ditubuhnya, alias tak mau gemuk.

"Gue suka banget menjaga stamina dan kondisi tubuh dengan berolahraga. Setiap harinya, gue rajin treatmil 30 kali, bersepeda dan sit up," jelas Dipa 'The Changcuters', di Outbond Cholic, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (1/1) petang.

Rajin Dipa melakukan olahraga itu, ternyata juga lebih untuk persiapan wisata kuliner. Pasalnya, setiap kali bepergian, Dipa bisa dibilang yang paling doyan makan diantara anak-anak The Changcuters.

"Setelah banyak mengkomsumsi makanan yang mengandung lemak, gue mesti buru-buru membakarnya. Biar nggak gemuk. Biar kondisi badan gue tetap stabil, sehat dan bugar," ujar Dipa.

Tapi, kenapa nggak coba olahraga berenang? Hasilnya kan, lebih maksimal?

"Memang katanya lebih maksimal. Tapi gue nggak suka olahraga air. Maklum, gue kan nggak bisa berenang," tutup Dipa sambil tertawa lebar.[aji]
inila.com

The Changcuters penampilan yang berkarakter





Soal berpakaian,kita sering bingung untuk mulai dari mana. Mendengar banyak orang bicara soal tren, kita berpikir bahwa memakai baju dengan gaya terbaru adalah langkah paling awal yang harus kita dahulukan saat menata diri.

Jadi setiap pergi ke luar rumah,berdandanlah kita dengan penampilan terkini.Tapi, akhirnya malah kikuk karena tampilan lebih seperti plagiat gaya di majalah-majalah, kurang sesuai kepribadian. Ketika buku-buku mengajari untuk memperhatikan tempat dan waktu saat akan berpakaian,kita lalu mengakui sebagai ”iya juga ya”?

Secara logika memang kelihatan aneh kalau kita memakai kaus dan celana jins saat datang ke acara resepsi pernikahan. Lalu kita mencoba menaati etika berpakaian itu dengan memilih baju kasual kalau acaranya santai dan berstelan lengkap kalau undangan bersifat resmi.

Dari sumber lain kita mendapat teori baru. Berpakaian itu untuk menutupi kekurangan pada diri. Bisa juga sebaliknya, menonjolkan kelebihan. Sebagai penganut paham nobody’s perfect,tidak ada yang sempurna di muka buni ini, kecuali para model super yang memiliki bentuk tubuh ideal,kita setuju dengan pendapat itu.

Maka setiap berpakaian kita tutupi tubuh yang kelebihan lemak dengan baju warna hitam ke mana saja, sampai lingkungan bosan memandang tampilan kita. Sementara sumber informasi lain mengatakan bahwa berpakaian itu untuk menunjukkan profesi kita sebagai makhluk sosial.

Dengan menata kemeja dan dasi bagi laki-laki dan perempuan memadu rok dan blazer, orang memandang kita sebagai pekerja profesional. Kalau lingkungan bisa menebak pekerjaan kita lewat pakaian,cara menampilkan diri kita berstatus sukses. Secara teori,masing-masing langkah itu benar. Kita dibuat bingung lantaran langkah- langkah itu terkadang kurang mengena di hati.

Sementara hal yang bisa menyentuh perasaan adalah menyatunya pakaian dengan diri kita. Itu artinya bicara soal karakter. Maka langkah paling utama dalam berpakaian adalah memakai busana yang sesuai dengan kepribadian. Contoh paling tepat untuk berkaca soal penampilan yang berkarakter,lihatlah The Changcuters.

Grup band itu terkenal bukan karena berhasil memelesetkan kata baby jadi bibeh. Bukan juga karena dalam syair lagu I Love You Bibehyang populer itu mereka memasukkan nama Luna Maya, artis paling dibicarakan saat ini.Bukan lagi semata lagunya mudah diterima, seperti ketika dulu grup band Inggris The Beatles memperkenalkan irama pop. Penampilan ikut menjadi kunci keberhasilan.

Gaya berpakaian mereka langsung menemukan karakternya. Celana berpotongan ketat, bahkan berkesan kesempitan. Paduannya kemeja ramping berdasi lebar yang sering ditutup jaket.Rambut jambul Tria, sang vokalis, disisir mirip Elvis Presley,penyanyi rock ternama Amerika era 1950-an.Qibil,si gitaris,juga bergaya unik dengan rambut poni mirip jamur.

Kombinasi semua itu menjadi karakter khas yang langsung membentuk citra.Kata anak-anak sekarang,”feel-nya dapat”.Bahkan, seorang diva Krisdayanti saja baru menemukan karakter tampilan setelah mengeluarkan beberapa album. Apa yang mau disampaikan lewat musik dan tampilan The Changcuters adalah gaya retro 1960-an.Sejak muncul,gaya itu secara konsisten dipakai dalam segala kesempatan.

Karakter tampilan itu akhirnya bisa dijadikan salah ikon mode baru di era 2000 ini. Untuk memiliki karakter,silakan berkaca pada orang besar. Rata-rata orang ternama sukses dan mendapat perhatian karena unik,tidak mau sama dengan sekitarnya. Itu karena setiap orang punya potensi untuk tampil unik.

Bukan lantas kita perlu menyisir rambut model jambul dan memakai celana superketat. Belum tentu gaya The Changcuters pantas untuk kita.Kita jelas beda. Caranya kembali ke karakter sendiri. Artinya mengenali sifat, pembawaan, pekerjaan, kebiasaan sampai gaya hidup sehari- hari.The Changcuters tampil begitu khas karena mereka punya lagak lagu suka berloncatan,riang,dan tidak mau bersikap monoton. Jadi, kenali diri sendiri dulu sebelum melangkah berpakaian.Tipe seperti apa diri kita?

Bila setelah mencoba untuk menemukan karakter dan ternyata kepribadian pakaian kita tidak muncul,bisa jadi karena kita belum sampai pada tahap menampilkan diri dengan baik.Artinya, berpakaian belum total,masih sekadar
mengikuti gaya orang atau sebaliknya, malah tidak peduli sama sekali. Untuk menjadi unik memang tidak mudah. Salah satu kiatnya,ya cuek bibeh saja, seperti diperlihatkan Tria, Qibil, dan teman- teman.